Minggu, 28 November 2010

ketika aku mencoba mengerti kesalahanku

sebenarnya aku sadar atas kesalahan yang telah aku lakukan. aku pun tak tahu mengapa aku terus mengulanginya, padahal rasanya sama sekali tak enak, benar-benar tak nyaman. dan ketidaknyamanan itu dengan paksa juga kutularkan pada orang-orang disekelilingku.
Perasaan tidak nyaman yang terlalu ku besar-besarkan, saat aku mengadu padamu, memberitahumu, lalu seolah menyalahkanmu, ini bagian kesalahanmu, namun ini mutlak kesalahanku, karena kesalahanmu itu telah lewat, dan dirikulah yang sekarang jadi sang pengungkit, yang menyakiti diri sendiri dengan fikiran negatif bayang-bayang masalalu yang dikacaukan oleh serpihan-serpihan ego dan kesombonganku dan orang lain.

sekarang aku maklum, aku maklum jika ada yang menyalahkanku atas ini, apalagi jika dirimu yang menunjukku sebagai tersangka, maka aku akan mengangguk dan mengakuinya. aku akan berikrar untuk tidak mengulangi salahku lagi, namun tak ada jaminan dari otakku, jika suatu saat hatiku memberontak lagi, tentang memori, tentang rasa tidak adil, tidak terima, yang harusnya telah menguap oleh hangatnya cinta yang kau berikan.

aku tahu saat diriku jadi sosok yang menyedihkan. aku menganggap kurang diriku. aku merasa tak pantas, atau mungkin justru terkadang aku merasa ada hal yang lebih pantas...
aku kurang ikhlas menjalaninya mungkin,
ada suatu teori yang memaksakan kemenangan,
definisi kemenangan yang belum secara sadar kusertifikasi,
harusnya aku tahu, kemenangan bukan untuk menjadi seorang putri yang diagungkan, yang dipuja dan dimanja, yang diharapkan, diidolakan,,
kemenangan itu ialah..
ketika aku telah menjadi manusia tulus..
yang tulus melayani kehidupan...
dengan kebaikan yang harusnya aku miliki...

terserah bagaimana respon kehidupan, ku rasa tak akan jauh dari yang diharapkan, karena ku tahu kehidupan adalah gema, yang memantulkan kembali apa yang ku lakukan, jika aku berlaku buruk, maka hal buruk yang akan terjadi padaku,
lalu apalagi yang menghalangiku untuk terus berlaku baik? pada sesama? pada orang-orang yang kusayangi?
untuk apa aku menyakiti mereka - secara tidak sengaja - melukai mereka karena keterpurukan yang ku balut sendiri...

aku mau bangkit :)
aku tahu, rasa sakit dapat mengobati, menghapus yang dapat menyakitiku kelak...

Laa haula wala quwwata illa billahil aliyil 'azim..

0 komentar:

Poskan Komentar