Sabtu, 04 Desember 2010

Dampak Globalisasi bagi Negara Maju dan Negara Berkembang (khususnya dalam bidang ekonomi)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya danagama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
 Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
 Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
 Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
 Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
 Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

BAB II
ISI

A. Teori globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
 Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
 Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
 Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
 Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
 Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

Situasi perekonomian dunia dalam era globalisasi telah sampai pada suatu keadaan dimana segenap aspek perekonomian, baik pasokan dan permintaan bahan mentah, informasi, dan transportasi tenaga kerja, keuangan, distribusi serta kegiatan-kegiatan pemasaran, semua menyatu atau terintegrasi dan kian terjalin dalam hubungan saling ketergantungan yang berskala dunia. Namun sayang dalam keadaan ekonomi dunia yang seperti itu justru negara maju akan semakin diuntungkan. Kekuatan lobby negara-negara maju dan kelemahan struktural di negara dunia ketiga telah menjadikan dunia semakin tak seimbang.
B. Globalisasi Ekonomi
Globalisasi ekonomi adalah proses mengglobalnya perekonomian dunia yang ditandai dengan arus perdagangan barang, jasa finansial yang bebas hambatan antar negara. Laju globalisasi pada abad 21 ini terutama dipicu oleh liberalisasi sektor keuangan pasar tahun 1970-an di negara maju yang kemudian juga terjadi dinegara berkembang pada tahun 1980-an. Pergerakan faktor finansial yang terbuka lebar antar negara ini pada akhirnya juga diikuti dengan arus barang dan jasa yang semakin mudah antar negara.
Prinsip utama globalisasi ekonomi adalah menekankan pada perdagangan bebas dan efisiensi ekonomi, prinsip pertama berbasis pada konsep keunggulam komparatif yang pada prinsipnya menyebutkan bahwa suau aktifitas ekonomi akan produktif ditempat yang relatif lebih efisien dibandingkan dengan tempat lain. Apabila setiap negara berproduksi disektor yang paling kompetitif, maka akan membawa keuntungan, baik bagi produes maupun konsumen. Produsen akan mampu berproduksi disektor yang paling menguntungkan dan konsumen akan mendapatkan produk yang relatif lebih murah dan lebih baik. Sedangkan prinsip kedua berbasis pada konsep mekanisme pasar, artinya efisiensi ekonomi ini akan ditentukan oleh mekanisme pasar.
C. Kemiskinan Dampak Globalisasi Ekonomi Bagi Negara Berkembang
Kemiskinan merupakan suatu kondisi di mana manusia mengalami kekurangan/ketidakcukupan pada taraf hidupnya, baik ketidakcukupan fisik atupun ketidakcukupan kebutuhan sosialnya.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh faktor natural atau oleh faktor struktural. Berkenaan dengan hal tersebut, upaya penanggulangan kemiskinan tidak dapat diterapkan secara umum, tetapi perlu dilakukan dengan memperlihatkan masalah utama terjadinya kemiskinan, termasuk memperlihatkan kondisi sosial budaya dari masyarakat miskin yang bersangkutan. Disamping pendekatan struktural, pengentasan kemiskinan perlu pula dibarengi dengan langkah-langkah memotivasi masyarakat miskin tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat mengentaskan dirinya sendiri dari kungkungan kemiskinan.
Biasanya masalah kemiskinan ini menimpa negara berkembang dimana negara berkembang gagal bersaing dalam pentas globalisasi ekonomi karena kurangnya sumber modal dibandingkan negara maju yang telah matang secara modal, dapat dikatakan globalisasi ekonomi hanya menguntungkan negara-negara maju yang matang secara modal ekonomi dan merugikan negara berkembang yang tidak siap dalam bersaing, sehingga menurut Robert A.Isaak bahwa globalisasi ekonomi menciptakan jurang yang semakin lebar antara negara kaya dan miskin. Menutut Isaak globalisasi telah mendorong negara dan individu yang kaya untuk menggunakan instrumen ekonomi dan politik untuk mengeksploitasi peluang pasar, meningkatkan produktivitas teknologi dan memaksimalkan kepentingan material jangka pendek, akibatnya terjadilah jurang yang semakin lebar antara pihak yang makmur dan pihak yang miskin.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam kenyataan yang terjadi pada saat ini dihampir seluruh belahan dunia bahwa globalisasi khususnya dalam bidang ekonomi hanya menguntungkan bagi negara maju dan menjadi momok yang menakutkan bagi pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara berkembang. Jika kita menanggapi secara positif keberhasilan ataupun kegagalan sautu negara dalam mengahadapi globalisasi adalah tergantung dari sejauh mana negara tersebut menghadapi arus globalisasi yang sulit terbendung lagi. Pada kenyataannya globalisasi mampu mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan semakin meningkatnya kreatfitas suatu negara dalam mengasilkan suatu produk dan globalisasi juga dapat meningkatkan tingkat efisiensi suatu negara sehingga dapa mendorong tingkat pertumbuhan ekonominya. Ada beberap negara berkembang atau negara dunia ketiga yang tergolong berhasil dan dengan cerdas memanfaakan arus globalisasi seperti Cina, Korea Selatan, Jepang dan lainnya yang tergabung dalam NIC (New Industrial Country).
Namun banyak negara berkembang yang tidak Sian dalam mengahadapi arus globalisasi ekonomi sehingga negara-negara tersebut mengalami keterpurukan secara ekonomi, jadi kalau menarik dari sudut pandang neoliberalisme bisa disimpulkan globalisasi ekonomi hanya dapat menguntungkan negara maju dan korporasi besar yang telah matang secara ekonomi dan melindas negara berkembang yang tidak siap.

0 komentar:

Poskan Komentar