Sabtu, 04 Desember 2010

Kita Segera Menjadi Generasi Penerus Bangsa, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?

Mahasiswa. Apa yang terbesit di fikiran kita ketika mendengar kata “Mahasiswa”? ada yang berfikir tentang sosok berpendidikan yang telah melewati masa sekolah selama lebih kurang 12 tahun dan memiliki kemampuan melanjutkan pendidikan lebih tinggi, yaitu kuliah. Ada yang terbayang tentang sosok para pemuda intelek penuh semangat yang akan menjadi kaum penerus bangsa ini, yang diharapkan akan mampu melanjutkan pembangunan negeri tercinta ini dengan pembangunan yang berkelanjutan, namun ada pula yang terbayang pada sekerumunan orang yang memakai jaket almamater sedang berbaris memegang spanduk, dengan satu orang berdiri di tempat yang lebih tinggi, memegang toa di depan mulutnya yang berkoar-koar dengan dalil menyuarakan suara rakyat, dan lebih tragis ada yang terbayang tentang kerumunan anarkis yang bukan hanya memegang spanduk, tapi menginjak-injak gambar Presiden, membakar-bakar mobil orang, merusak fasilitas umum, merobohkan pagar gedung pemerintah, membawa binatang sebagai simbol pemimpin negara, deskripsi “mahasiswa” seperti apa yang kita inginkan? Semua tergantung kita sendiri.
Lebih dari sebuah kata, lebih dari sekedar predikat, lebih dari sebuah status. Mahasiswa punya arti yang jauh lebih berharga dari itu semua. Generasi penerus bangsa. Ya, mungkin itu bukan sesuatu yang baru, itu pun hanya sederet kata yang sudah sering diperdengarkan dengan harapan timbul kesadaran pada diri kita, seorang manusia yang sedang berupaya menimba ilmu yang bermanfaat untuk masa depan. Sederet kalimat sederhana yang sering terlupa maknanya. Apakah kita sadar bahwa kita sedang “melupakan”? tentu saja tidak, lupa adalah sesuatu yang kita lakukan secara tidak sadar, tapi “tahu bahwa kita telah lupa” adalah sebuah kesadaran yang dapat berpengaruh baik bagi perilaku kita. Tapi kesadaran saja tidak cukup, tanpa memulai.
Banyak yang mengatakan, memulai adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Banyak kendala, rintangan, hambatan, apa pun itu selalu saja ada yang menghalangi untuk memulai hal baik, apalagi jika itu berhubungan dengan “perubahan”. Saya pun begitu, saya sering sadar bahwa apa yang saya sedang lakukan bukanlah suatu hal yang baik untuk dilakukan, namun untuk bergerak maju, dibutuhkan tekad yang sangat kuat, bahkan tak ada salahnya memaksakan tindakan yang baik, sebagai wujud ketegasan bagi diri sendiri.
Kemampuan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik adalah kemampuan kita untuk keluar dari batas-batas kebiasaan yang telah kita tetapkan sendiri. Seringkali kita terlena oleh kebiasaan yang telah kita lakukan sehari-hari walaupun kita sadar kita mampu melakukan yang lebih baik dari itu. Banyak alasan yang sering kita utarakan. Biasanya, alasan yang menyalahkan keadaan. Ketika saya ditanya “mengapa Anda terlihat kurang bersemangat di kelas?” mungkin saya akan menjawab, “Dosen mata kuliah ini kurang efektif cara mengajarnya”, atau “Saya tidak mengerti mata kuliah ini, dosen yang mengajar kurang jelas menjelaskannya.” Kenapa kita harus menyalahkan sang dosen yang jelas-jelas telah menjadi orang terpilih yang dapat mengajar di sebuah universitas negeri favorit di kota ini? Harusnya kita yang sadar diri, bagaimana mau mengerti penjelasan dosen jika kita tidak mau mendengarkannya dengan serius, mengapa kita bisa tidak mengerti padahal sang dosen sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin dengan materi berkualitas ditambah fasilitas proyektor, secara teori yang saya tahu, dengan catatan saya juga sedang berusaha melakukan ini; mungkin kita kurang doa, cobalah untuk berdoa sebelum belajar, minta diberi kemudahan dalam mengerti apa yang dijelaskan sang dosen, usahakan untuk duduk di depan dan memperhatikan dosen dengan baik, bertanya jika ada yang kurang jelas, bersikap hormatlah kepada dosen, kemudian kerjakan tugas dengan baik sesuai perintah, jangan dibiasakan menunda-nunda, dan jangan lupa untuk mengkaji materi yang telah diberikan dengan lebih dalam. Karena jika hanya mengandalkan penjelasan dari dosen, belum cukup. Bukankah kita adalah generasi muda yang haus ilmu pengetahuan?
Lalu, bagaimana jika saya menjawab “suasana gedung kampus suram, fasilitasnya kurang lengkap, WC nya jelek, gak ada aktifitas seru yang bisa saya lakukan.” Menyangkut soal fasilitas, ini bukan masalah yang dapat saya selesaikan dengan teori. Bukan sesuatu yang dapat saya perbaiki dengan perubahan tindakan saya. Jika “Ingin Pintar? Makanya Belajar”, bagaimana “Ingin fasilitas lengkap dan suasana yang nyaman? Makanya?” harus apa? Harus demo didepan dekanat sambil membawa tulisan “perbaiki gedung kampus, perbaiki WC, adakan fasiitas yang menunjang unit kegiatan mahasiswa” tentu saja bukan hal yang dapat diterima begitu saja. Saya juga belum memahami secara ahli masalah anggaran fakultas dan pengelolaannya. Yang saya percayai adalah bahwa semua pejabat terkait menginginkan yang terbaik bagi instansinya, dan saya harap gedung kampus saya bisa diperbaiki, terjaga kebersihan dan keasriannya. Dan solusi yang saya tawarkan untuk masalah ini adalah: “buanglah sampah pada tempatnya”. Mungkin bosan mendengarnya, tapi untuk urusan satu ini saya sudah coba menerapkannya, saya sedih melihat sampah kertas, tissue, bungkus makanan berserekan di lantai, di bawah pohon, bahkan di WC. Padahal, tidak sulit untuk menjaga kebersihan, tempat sampah sudah tersedia, kalaupun belum menemukan, apa salahnya disimpan dulu didalam tas, sebagai bukti, tas saya sering berisi bungkus permen dan tissue bekas yang segera saya buang jika menemukan kotak sampah, bukannya bangga (kenapa harus bangga ada sampah di dalam tas), saya hanya menekankan bahwa menjaga kebersihan itu sebenarnya tidak sulit dilakukan, sama halnya dengan rajin belajar dan menjadi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan positif, asal kita mau, punya niat dan tekad yang muncul dari kesadaran dan terelisasi dengan memulai tindakan yang baik dan benar lalu melanjutkannya menjadi kebiasaan.
Bayangkan jika semua mahasiswa FISIP adalah mahasiswa yang aktif dalam belajar, terus mengkaji materi secara mendalam hingga mengerti, mahasiswa yang hormat pada dosen, mahasiswa yang berpenampilan rapi dan sopan, mahasiswa yang tidak hanya aktif berorganisasi, tapi juga aktif menjaga lingkungan, mahasiswa yang sadar akan hakekatnya sebagai manusia, akan keberadaannya sebagai warganegara yang memiliki kewajiban membangun bangsa. Ah, mungkin Anda menganggap semua ini hanya sederet teori yang siapapun bisa membuatnya. Saya pun mengakui, ini hanya sekedar himpunan solusi yang saya tawarkan sebagai opini dari masalah yang saya temukan, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya. Harapan saya, kita semua bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal terkecil lalu menjadi hal besar. Pertahankan kebaikan, tinggalkan hal yang buruk. Konsep mudah yang dapat kita mengerti. Dengarlah, bangsa ini membutuhkan kita, kita punya kesempatan untuk memperbaiki kondisi di Negara ini, kita masih punya niat, tekad dan semangat serta orang-orang yang menyayangi kita selalu turut mendoakan kita. Kita semua ingin melihat bangsa ini maju. Maka, tegaslah. Kita telah terlalu lama terlena dalam kepasifan…

0 komentar:

Poskan Komentar