Selasa, 07 Desember 2010

Tugas KP buat besok (copas) hehe

Elite

Pendekatan elite sudah populer dikenal dalam sosiologi-politik. Kata elite, sebagaimana dilacak T.B. Bottomore dalam bukunya berjudul “Elite and Society”, telah digunakan pada abad ke-17 untuk menggambarkan barang-barang dengan kualitas yang sempurna. Penggunaan kata itu kemudian diperluas untuk merujuk kelompok-kelompok sosial yang unggul, misalnya unit-unit militer kelas satu atau tingkatan bangsawan yang tinggi. Oxford English Dictionary edisi tahun 1823, sudah memasukkan entri “elite” yang merujuk pada keberadaan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Selanjutnya, kalau bukan karena studi Vilfredo Pareto pada akhir abad kesembilan belas di Eropa, diikuti Gaetano Mosca pada 1930-an, dan ilmuwan sosial pasca-mereka, mungkin kata elite tidak akan berkembang menghiasi khasanah sosiologi politik modern. Bottomore mencatat bahwa sesungguhnya gagasan bahwa masyarakat seharusnya dikuasai oleh sekelompok individu unggul telah muncul dalam pemikiran Plato, dan lebih-lebih dalam doktrin-doktrin kasta oleh para Brahmana yang mengatur masyarakat India kuno. Dalam bentuk lain yang masih memiliki pengaruh penting pada teori-teori sosial, banyak doktrin keagamaan yang menyatakan gagasan tentang elite dalam arti ‘pilihan Tuhan’.

Menurut Pareto setiap cabang kegiatan manusia, setiap individu “memiliki kapasitas” yang berbeda-beda. Yang memiliki “indeks tertinggi” dalam cabang kegiatan masing-masing, maka itulah elite. Jadi, setiap cabang kegiatan manusia, terdapat para elitenya. Walaupun berbeda-beda cabang kegiatan, tapi hakikatnya seorang elite adalah seseorang yang mampu berdiri di pucuk piramida cabang kegiatannya itu. Eksistensi para elite itu ditentukan, antara lain oleh sejauhmana mereka mampu mempertahankan posisi dan pengaruhnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat, yang terus berubah. Daya tahan elite tidak hanya sebatas bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan dinamika lingkungan yang terus berubah itu, tetapi juga oleh sejauhmana mereka mampu mempertahankan, bahkan mengembangkan pengaruh yang makin meningkat, sebagaimana diungkapkan Sejarawan Arnold Toynbee, bahwa “dalam seluruh tindakan kreasi sosial, para pencipta adalah individu-individu yang kreatif”.

Mereka bisa berperan positif atau negatif. Peran positif elite misalnya dicatat oleh Clive Bell, dalam bukunya Civilization. “Suatu masyarakat yang beradab”, catat Bell, “ditandai oleh kenalaran dan nilai-nilai, dan bahwa kualitas ini hanya dapat dihasilkan, ditanamkan dan dipelihara oleh suatu elite”. Namun demikian, biasanya pula, para elite-lah yang paling mampu menghancurkan peradaban yang telah dibangunnya itu. Hal ini terkonfirmasi secara jelas apabila kita mencermati sejarah jatuh-bangunnya peradaban-peradaban politik dunia sejak zaman kuno. Dalam “Collapse” (2005), Jared Diamond mencatat destruktivitas peradaban yang disebab-kan antara lain oleh adanya kerusakan lingkungan dan buruknya desain sosial, ekonomi, dan politik.

0 komentar:

Poskan Komentar