Senin, 07 Februari 2011

Hidup tak kan terdefinisi, catatan ini ku buat untuk mengingatkanku hari ini, esok, lusa hingga nanti...

Bismillahirrohmanirrohim
Palembang, 8 Februari 2011

Hari ini aku belajar atas apa yang telah terjadi. Padaku. Pada mereka. Pada kami. Pada kita. Pada bumi ini.
Karena hidup adalah pembelajaran,
Kita mulai melakukan sesuatu dengan kemampuan yang kita miliki, lalu, Allah membiarkan kita melakukan kesalahan, yang kadang menyebalkan bagi kita, yang membuat kita terlihat bodoh dan amatiran –dibanding mereka yang memberikan kita instruksi (nasihat)- tapi sesunggunya, itu justru rahmat yang dapat memberikan kita makna, sebuah keindahan untuk belajar lebih baik, yang dapat memberi kita rasa berharga, karena dengan merasa bahwa kita tak mudah mendapatkan ini atau melakukan itu, kita cukup hebat karena kita telah belajar melalui setiap bab, dan dengan kebanggaan yang baik pun kita dapat berkata, “hei, aku tidak mendapat ini begitu saja, aku berusaha.“ Dan usaha dengan niat baik yang dilakukan dengan hal yang benar, tak pernah sia-sia. *minimal dapet pahala.
Jadi usaha adalah pembelajaran, dan belajar adalah usaha? Belajar dan berusaha.

Hidup adalah cobaan,
Tak ada sedikit waktu pun yang boleh kita abaikan untuk kebaikan, mengeluh bukan solusi tepat untuk menghadapi cobaan. Aku menemukan definisi ini ketika aku mencoba ‘mengadu’ pada seorang teman tentang buruknya perasaanku tentang diriku pada saat itu. Dan hari ini pun aku telah belajar, jangan lagi curhat sama orang jika isinya keluhan –terutama pada saat orang tersebut sudah mau pergi tidur dan diriku hanya ingin lebih diperhatikan-, karena itu hanya akan membuatku terlihat semakin buruk dan kurang, karena betapa pun orang tersebut mencoba untuk membantuku, aku akan merasa semakin bodoh, terjadi salah persepsi dan semacamnya. Jadi, aku harus menghindari mengeluh di depan orang, sekalipun orang itu orang yang ku percayai dan ku sayangi. Karena hidup adalah cobaan, maklumi saja semua hal buruk yang menimpaku, toh masih banyak hal baik lainnya yang melimpah menghujaniku, kalaupun sedang merasa sangat buruk, ada Allah tempat mengadu –percayalah, kita hanya boleh merendahkan diri dihadapan Allah-.

Hidup adalah pilihan,
Tidak harus memilih antara A dan B. setiap detik kita menjalani pilihan. Pada saat-saat tertentu kita akan lebih sadar tentang pilihan. Pilihan yang paling dasar dan terdengar simple adalah antara ‘baik’ dan ‘buruk’. Minta petunjuk sama Allah supaya tidak salah pilih, karena pilihan yang kita ambil akan kita jalani, dan tentu saja kita tidak ingin menjalani hari yang buruk karena pilihan yang salah, bukan?

Hidup adalah uji ketahanan,
Pernahkah kamu merasa gelisah, tak tenang, serbasalah, tapi juga tak tahu harus melakukan apa?
Aku sering. Dan dengan keadaan seperti itu yang harus kita lakukan hanya bertahan. Jangan berfikir negatif, jangan panik meminta bantuan kesana kemari. Itu justru akan memperparah keadaan, suasana bisa jadi lebih kacau. “bertahanlah bila gelisah datang, karena kita tak kan mampu untuk menghindarinya”. Bertahan saja. Nikmati setiap udara yang kau hirup, rasakan Allah sedang memperhatikanmu, Ia akan segera menolongmu, ya, Allah will save you. Jadi bertahanlah… sejenak. Ini tak kan lama.


Hidup adalah hasil keputusan,
Aku pernah mendengar bahwa takdir kita telah ditetapkan sebelum kita diputuskan untuk tinggal di bumi fana ini, kita ikut memutuskannya bukan? Jadi, yakinlah dengan petunjuk Allah kita telah mengambil keputusan yang benar jauh sebelum kita dilahirkan, jangan pernah menyesali keputusan yang telah kita ambil, dan semua keputusan yang kita lakukan selama hidup di dunia, caranya, fikirkan segala konsekiensi sebelum mengambil keputusan, tapi jangan terlalu lama berfikir, tak ada yang suka menunggu terlalu lama. Keputusan adalah ketegasan. Hiduplah tegas untuk kebaikan. Tak ada yang lebih indah daripada itu.


Hidup adalah ketentuan,
Hidup kita sudah ditentukan, yang terbaik untuk orang-orang yang melakukan hal-hal terbaik dalam hidupnya, yang buruk untuk orang-orang yang melakukan hal buruk dalam hidupnya. Kita selalu mendambakan hati yang dapat selalu tersenyum, dan ternyata ketentuan itu masih bergantung pada apa yang kita lakukan. Itu sebabnya Allah memberikan kita kebebasan untuk menggunakan fikiran, perasaan dan segala indera di tubuh kita, semua itu turut menentukan ketentuan mana yang akan ditetapkan bagi diri kita. Tetaplah wajar, kebebasan yang bertanggung jawab.



Hidup adalah perbedaan,
Klasik. Si kembar pun tak mungkin sama. Tak usah merasa tak nyaman dengan perbedaan. Itulah keindahan, itulah seni kehidupan. Saat orang lain lebih baik darimu, tak usah mengeluh, apalagi iri dengki, hilangkan segala bentuk penyakit hati. klasik (lagi) setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sebaik-baiknya manusia di mata Allah adalah yang beriman dan bertaqwa. Buat apa repot-repot untuk terlihat memukau didepan orang-orang, bukankah ini cuma sebentar, bukankah pada akhirnya Allah jua lah tempat kembali. Dan kelak di surga lah tempat yang abadi.

Hidup adalah penerimaan,
Terimalah apa yang ada. Pada dirimu, pada keluargamu, teman-temanmu, orang-orang disekililingmu. Bahkan mereka yang kau rasa telah berlaku jahat padamu. Terimalah, dengan hati yang ikhlas dan pasrah. Allah menyukai hamba-Nya yang berserah diri, dan jika ‘menerima’ adalah salah satu jalan untuk dicintai Allah, mengapa harus melakukan penolakan-penolakan yang membuat kita brutal? Terima saran dan kritik, terima kasih sayang yang tulus, terima niat baik, terima apa yang Allah kehendaki, pantaskan diri untuk selalu menerima yang baik, hanya satu hal yang harus kita tolak dalam hidup ini: melakukan hal yang dilarang Allah.

Hidup adalah kesempatan,
Aku sering berfikir, mengapa Allah menurunkan kita ke bumi? Mengapa Adam dan Hawa harus memakan buah kuldi, alangkah senangnya jika terlahir di surga lalu hidup selamanya, -jangan berfikir lebih jauh, fikiran manusia tak kan mampu menjangkaunya-. Dan aku hanya dapat meyakinkan diriku bahwa, hal buruk akan terjadi pada kita ketika kita tidak mentaati perintah Allah. Allah Maha Tahu, Ia yang menciptakan kita. Mengapa kita harus hidup di bumi sebelum kelak akan mencapai alam yang kekal di akhirat?, (surga, aamiin), adalah karena Allah memberikan kita kesempatan. Kesempatan untuk merasakan bagaimana ‘hidup yang sementara’ itu. Ini adalah kesempatan. Seperti saat sekarang, Allah memberikan kita kesempatan untuk tidur di malam hari, lalu bermimpi, mimpi yang sementara. Dan hidup di dunia bukan berarti seperti mimpi, karena mimpi seringkali tak dapat kita kendalikan, namun di alam nyata, kita diberi kesempatan berfikir sebelum bertindak.

Hidup adalah ketidakabadian,
Sesuatu yang tidak abadi pasti berakhir. Sesuatu akan berakhir dengan indah apabila dimulai dengan baik dan dilaksanakan dengan baik. Sudah tahu hidup cuma sebentar, jangan mengejar yang tidak-tidak.

Hidup adalah proses,
Input, proses, output. Aku telah menulis banyak tenang proses. Yang semuanya berinti pada kebaikan yang dikehendaki Allah. Diawali dengan bismillah disudahi dengan Alhamdulillah, begitulah sehari dalam hidup kita, mudah-mudahan dirahmati Allah.

Hidup adalah jembatan,
Jembatan menuju akhirat. (sudah capek nulis, haha)
Hidup adalah anugerah,
Jadi syukurilah. Yang terjadi baik atau buruk tergantung sikap kita. Berhatil-hatilah dalam bersikap, karena anugerah bisa kau ubah jadi malapetaka jika tak punya pedoman. –Al-Qur’an dan Hadits- Berimanlah… bertaqwalah.. hidup akan terasa lebih indah.

Hidup adalah doa,
Semua definisi hidup yang aku tulis, tak akan berjalan tanpa doa.
Berdoalah, itulah mengapa kau punya Tuhan.
Minta semua pada-Nya, adukan semua pada-Nya, serahkan semua pada-Nya.
Kau ingin keajaiban? Ya, percayalah selalu ada keajaiban untukmu sebagai bentuk kekuatan doa.
Mendekatlah pada Allah, lalu berdoa. Katakan apa saja yang ingin kau sampaikan pada Allah, Allah Maha Mendengar, kau tak pernah sendirian.


Dan sangat banyak kesalahan yang telah aku lakukan. Aku minta maaf pada kalian, aku berdoa semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.

Ada yang ingin menyumbangkan definisi hidup lainnya? Itu akan sangat membantuku melengkapi konsep kebenaran di dalam kesalahan yang telah aku lakukan, aku hampir 20 tahun, aku mendengar ini dari seorang motivator, ‘aku ingin melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya’ semoga usia ini sudah cukup untukku melakukan berbagai kesalahan, agar di masa yang akan datang, aku tak kan mengulangi kesalahan yang sama, kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Dan nanti aku bisa tersenyum ‘aku sudah dewasa’.

0 komentar:

Poskan Komentar